Merevisi Adegan

20180510_213226_0001-1352695149.pngMatahari tenggelam, aku pernah berjanji sama diri sendiri untuk mencari hikmah setiap hari. karenanya aku meyakini, bahwa hikmah adalah barang hilang milik orang beriman, dimana saja kita temukan, hendaknya kita pungut dan bingkai dalam lubuk hati yang paling dalam.

Aku merefleksikan ingatan tentang kejadian 19 jam kebelakang kemudian mengelompokkannya menjadi dua bagian.

Pertama: ketika aku bersusah payah menghapal rumus tentang pembentukan kata. Tentang imbuhan me-mer-mem-be-ber, dan bla bla bla.

Aku berdoa, yaa Allah sesungguhnya hanya Engkau Dzat yang mampu memudahkan urusan yang sesungguhnya sulit, dan hanya Engkau pula yang miliki kuasa untuk menyulitkan urusan yang sesungguhnya mudah.

Bismillah, kertas UTS dibagikan, aku menarik napas sambil perlahan membaca satu sampai enam soal.

Yaa Allah, segala puji milik Engkau! Hatiku berjingkrak. Aku tersenyum sambil mengerjakan.

Bagian kedua: aku tipikal perempuan yang gagu luar biasa. Apalagi jika harus berhadapan dengan lensa kamera. Mataku tak pernah sanggup untuk fokus menatapnya. Aku lebih suka menatap sekitar secara random daripada melihat satu titik saja.

Baiklah, tiga jam berikutnya, aku hendak menyelesaikan tugas salah satu mata kuliah, dosen meminta kami untuk meliput apa saja di daerah Balikpapan.

Aku merapal doa yang sama: yaa Allah sesungguhnya hanya Engkau Dzat yang mampu memudahkan urusan yang sesungguhnya sulit, dan hanya Engkau pula yang miliki kuasa untuk menyulitkan urusan yang sesungguhnya mudah.

Lagi-lagi, kasih sayangNya menghampiriku hari ini, Dua orang sahabat yang entah bagaimana caranya menyanggupi bantuan yang aku pinta; menjadi cameramen dan editor. salah satunya teman baru; Ayu namanya.

Aku menunggu ditempat perjanjian kami; taman Bekapai. selain strategis dan dekat dengan tempat tinggal, juga tidak begitu banyak orang. Demikian kata Lala.

Aku memperhatikan layar empat inci, memeriksa pesan terakhir yang aku kirim, ‘dimana ya?’ aku bertanya dalam hati.

Masih dengan layar yang sama dan satu kaki yang berdetak tak kenal henti, aku dikagetkan dengan sosok ibu dan anak kecil disebelahnya

“mbak, ada 10 ribu kah?” katanya dengan logat jawa dan Balikpapan yang begitu kental

“10 ribu,emm..”

“10 ribu aja na mbak, anakku kasian mau pulan!” pintanya memaksa

Aku menatap anak laki-laki itu, dengan pakaian lusuh dan wajah yang sepertinya cukup lama tidak tersentuh air. Aku mencari kejujuran di kedalaman matanya.

kalau kamu hendak melakukan keburukan, segera lakukan apa yang menjadi kebalikannya! Kamu bakal ngerasain sensasinya jadi pemenang! Menang dari diri kamu sendiri!’

Kalimat bijak yang pernah aku baca di timeline sosial media terngiang dalam kepala,

“Ini bu,” aku menyerahkan sejumlah uang yang diminta,

“Makasih ya mbak,”

Aku tersenyum.

Aku menahan diri untuk tidak berbalik kebelakang, tentu saja untuk berhenti menghakimi hati orang. Ngerti maksudnya? Semacam kamu ingin mastiin apakah orang itu jujur atau enggak.

Biarlah itu menjadi urusan dia dan Tuhannya, tugas kita adalah berbuat baik kepada siapa saja.

Aku merasakan sensasi luar biasa itu, aku tersenyum lebih lebar lagi. Yaa Allah makasih.

Seorang melambai dari kejauhan,

“Siap teh?” Lala bertanya setelah mengucap salam

“Aku gagu,”

“Mana skripnya?”

“Ini.” aku menyerahkan smarphone

“Kamu bikin sendiri teh?” masih men-scrol layar, Lala bertanya memastikan.

“Iya.”

“Mantap, lolos skripsi sudah kamu, wkwkwk.”

Aku tak mengindahkan, sibuk dengan paragra- paragraf yang harus aku hafal diluar kepala, tanpa ba-bi-bu, tanpa em-e..- dan seterusnya.

“Gausah grogi ya.” LaLa menyemangati

“Grogi sih enggak, aku suka mendadak amnesia aja depan kamera!”

Lala tertawa.

“Yuk, 1 2 3 mulai!” Ayu memberi aba-aba.

“bingung mengisi weekend? Anda bisa mengunjugi taman kota. Taman balikpapan ini mislanya. Eh, kok balikpapan sih, bekapai la!

Salah lagi ya.

Mereka berdua tersenyum

“Kurang keras teh suaranya!”

Baiklah

“Anggap aja nggak ada orang, atau anggap aja mereka itu botol!”

Aku nggak tahu lala dapet ide darimana untuk memintaku menganggap semua orang ini adalah botol.

Aku mulai kesal sama diri sendiri, aku gak suka diri yang bikin orang lain cape, gak tega ngeliat ayu sama lala tersenyum simpul menyemangati padahal matahari sudah tidak terik lagi.

Yaa Allah, aku berdesah.

“Baik, ini scene terakhir ya, nanti sisanya kamu dubber aja,” intruksi Ayu.

Baiklah.

Aku memperagakan ala jurnalis profesional. tetap saja, aku menuntut diri untuk setidaknya memiliki kemiripan. Meski tidak seberapa.

Ais, kamu akan tampil dihadapan manusia beberapa menit saja, tapi kamu bersusah payah untuk menampilkan yang terbaik sesuai yang kamu bisa, ingin mendekati sempurna. meski kamu paham bahwa nggak pernah ada makluk yang menyandang predikat sempurna.

Lantas, bagaimana dengan TuhanMu? Dia menatapmu setiap saat, setiap detik bahkan detak. Akankah kamu melakukan perbaikan sebagaimana yang kamu lakukan ketika liputan?

Bukankah Khalik adalah Dzat yang Maha baik? Bukankah Dia yang miliki sepenuhnya kuasa untuk menilai kita? Dengan bijaksana, tanpa mendzolimi siapa-siapa (?)

Ruangan persegi panjang lenggang, menyisakan desing kipas angin yang menyejukan sekitar. Ada gempa yang mengguncang dalam benak, seperti tamparan keras yang menapar perspektif, memberi rambu bahwa tindakanku ada yang keliru.

Semoga dalam sadar maupun tidak, hanya Allah yang benar-benar berada dihati kita.

Sudah selayaknya kita meng-cut dan merevisi adegan dengan akhlak yang baik, akhlak yang dicontohkan Nabi SAW.

Karena kelak adegan kita akan dipertontonkan didepan massa manusia. Tanpa edit gambar dan sensor ucapan, tentu saja. Pastikan kita mampu menjadi hamba yang memiliki ending bahagia. Tak apa dijauhi manusia, bukankah kisah inspiratif karena penuh adegan yang dramatis. Iya kan?

Bacalah, demi peradaban!

Pernah menemui masalah yang hampir membuatmu gila? Siang-malam dipikirkan tapi jalan keluarnya tak kunjung ditemukan (?)
Saya pernah, dulu.
Sebelum saya dipaksa untuk membaca.

Katanya, masalah kita adalah harapan-harapan janggal yang di copy paste dari kehidupan sebelumnya. Artinya, ada lebih dari ribuan orang yang pernah ditimpa kemalangan yang sama seperti kita.

Pernah dengar kisah Salman yang cintanya bertepuk sebelah tangan? Lantas, apa yang Salman lakukan? Ia tegar mengikhlaskan. Percaya, bahwa Allah sebaik-baik pencipta jalan cerita.

Bagaimana dengan sosok Edison yang di cap sebagai anak idiot oleh teman-temannya? Hei, tindakan “tuli” nya menghantarkannya pada penemuan luar biasa yang pernah ada.

Umar bin Abdul Aziz? Ketakutannya terhadap tahta, memaksa dia untuk membaca Jalan cerita kakek moyangnya–Umar bin Khattab. Alhasil, ia mampu menjadi pemimpin yang memakmurkan rakyatnya.

Lantas, Kenapa ada banyak sekali orang yang tak mampu menyelesaikan masalahnya? Bukankah (seharusnya) begitu familiar?

Mereka tidak suka baca, akibatnya tidak peka.

Bagaimana bisa suka? Ketika melihat halaman pertama saja mata sudah berontak. Katanya, ingin menutup diri saja (baca: ngantuk)

Tak apa. Semampunya saja. Kita tak pernah dituntut untuk membaca ratusan bahkan ribuan halaman perharinya bukan?
Satu halaman, atau paragraf saja. Bukankah itu lebih baik daripada tidak sama sekali?

Ketika mata dan hati kita sudah berteman baik dengan kata-kata, maka “kepekaan” kita akan terasah. Seperti mampu membaca bahasa non verbal, perasaan bahkan keadaan.

Kalau udah kelar, waktunya keluar!
Cari solusi untuk mengatasi kerusakan-kerusakan.
Banyak PR yang harus dituntaskan. Yang sayangnya kebanyakan kita sering berprilaku “lempar batu sembunyi tangan”

Maka, bacalah demi perbaikan.
Bacalah demi peradaban.
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.

Tentang Amanah

20180415_180348_0001Ada seribu kegelisahan yang bersarang dalam kepala, sejatinya sih cuma beberapa.
Tapi saat ini, rasanya tugas itu terasa lebih berat dari kelihatannya.

“Mengundurkan diri? Kenapa dek?”
Seorang senior menuntut penjelasan. Bagiku itu seperti menolak mentah-mentah keputusan yang baru saja aku ajukan.
“Lagi banyak tugas kak, aku khawatir kuliah jadi keteteran, kasian orang tua udah ngebiayain mahal mahal.” Aku takut-takut menjelaskan.
“Nggak dipikir pikir dulu kah dek? Kita ini lagi berjuang dijalanNya! Jadi penghantar cintaNya untuk disebarkan ke seluruh penduduk semesta!”
Aku menunduk. Diam.
Seniorku juga diam, mungkin baru menyadari kalimatnya tadi terkesan menghakimi.
“Maaf,” katanya.
Aku mengangguk.

Angin berhembus.
Beberapa jenak kami diam,
“Sini dek,”katanya dengan suara lebih pelan.
Dia menyodorkan smartphone, menunjukan sesuatu yang tertera didalamnya.

“Jika kamu ada di jalan yg benar menuju Allah, berlarilah. Jika itu berat untukmu, berlari-lari kecil lah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Dan jika kamu tidak bisa, merangkaklah, tapi jangan pernah berhenti ataupun berbalik arah.”

-Imam Syafi’i-

Aku memilih untuk tidak merespon apapun.

“gini aja, sebelumnya kakak mau kasih amanah buat kamu, kamu harus pastikan, bahwa kamu akan menjalankan dengan sebaik-baiknya, kerahkan seluruh kemampuan kamu, passion kamu, apalagi waktu kamu untuk mempertaggung jawabkan sebuah acara. Acaranya dua minggu lagi, Nanti kakak Cuma bantu backup. Kalo kamu berhasil, pilihan ada ditangan kamu, tapi kalau tidak memuaskan kakak sarankan kamu harus melakukan prosesi perbaikan diri terlebih dulu.”

‘dua Minggu? Baiklah.’

 

Malam itu, aku memulai rutinitas baru, menuliskan apa saja yang akan aku lakukan esok hari, dan meramalkan kemungkinan buruk apa yang akan terjadi, meski masih payah, aku mencoba belajar memahami, membuat dua rencana sekaligus. Jika rencana pertama tidak memungkinkan, aku bisa beralih ke rencana lainnya.

H-3
Acara siap digelar, sejauh ini tak ada kendala yang berarti; Pemateri mantap. Tema acara kece. Konsumsi enak.
Oh iya, para jamaahnya, aku belum kasih informasi ke bid. syiar untuk mempublikasikan acara.
Rapat dadakan dimulai.

“Kita nggak punya dana untuk bikin itu!
“Tapi kalo bukan dgn cara itu kita nggak bisa mengajak sebanyak mungkin jamaah dalam waktu 2 hari!”
“Kita nggak bisa memaksakan kehendak.”
“Aku bukan memaksakan kehendak, aku cuma berusaha mempersembahkan yang terbaik!”
“Untuk apa? Untuk siapa? Untuk supaya kamu bisa berhenti dari jalan dakwah ini? Kamu yakin Allah suka? Kamu yakin Allah ridha?

Jleb!
Pesan What’sApp masuk

“Kamu udah selesai ngerjain tugasmu? Besok dikumpul, dosen mau revisi.”

‘astagfirullah, bagaimana mungkin aku lupa kalau besok hari terakhir pengumpulan tugas!’

Aku melangkah menuju motor. Membelah jalan, Kupacu kendaraan dengan kecepatan maksimal.

Sayup adzan terdengar, bulu kudukku berdiri seakan ada yang mengajakku untuk menepi. aku memberhentikan motor di mesjid terdekat,

Memutuskan untuk mengadu kepada Allah, aku sudah terlalu egois terhadap apa yg diputuskan.
Dia, yang selalu bersenang hati mengurus semua aspek kehidupanku. Aku, dengan besar kepala tidak mau menolong agamaNya?’

“Yaa Allah maafkan daku,”

Sujudku sedikit lebih lama saat itu, meminta segalanya dimudahkan. Mengakui bahwa aku hanyalah hamba yang tak memiliki apa-apa. Hamba yang ‘sok” punya segudang kesibukan.

Aku memacu kendaraan lebih tenang, sesampai di kos, segera membuka laptop, menyelesaikan tugas yang masih 10 lembar lagi.

***

“Selamat ya, laporan kamu tidak perlu direvisi. Silakan simpan tugas ini besok di meja saya dan jangan lupa dijilid terlebih dahulu.”

“Masya Allah, Allahuakbar. Mimpi apa aku semalam?!”

“Te..terimakasih pak.”kataku terbata, tidak percaya.
“Iya.”
“Sekali lagi terimakasih,” aku sedikit membungkukan badan, mengikuti tradisi orang jepang.

Masih dengan debaran yang sulit dijelaskan, kejutanNya belum berakhir sampai disana.
Panggilan masuk.
“Akh, alhamdulillah kita dapat dana tambahan. Ada seorang mukhlis yang tiba-tiba datang dan memberikan sejumlah uang. Kita bisa pakai rencana antum untuk menggaet para jamaah!”

‘Allahuakbar yaa Allah, terimakasih. Segala puji hanya milik Engkau,’
Mataku sembab.
Terharu akan sikapNya memperlakukanku.

Acara digelar lancar, tugas terselesaikan.

****
“Gimana dek? keputusannya masih sama dengan dua minggu yang lalu?”

“kak, taruh aku dibagian mana aja, insya Allah siap. Aku udah di booking sama Allah untuk menolong agamaNya!”

“Masya Allah”

“Amanah nggak pernah menimpakan dirinya dipundak yang salah. Dan jika kamu dikasih amanah, itu berati hidup kamu akan berkah. Tunggu ajah!”